Ada BAIKnya Ngak Perlu MINTA MAAF
Suatu hari konsepku dibantah oleh anakku yang berusia 7 tahun, duduk di SDIT Insan Kamil kelas 2. Selama ini bagiku, kata “maaf” adalah suatu perkataan yang mudah diucapkan dan cukup untuk menyatakan penyesalan untuk tidak terulang lagi dan menyelesaikan masalah yang akan berlarut-larut. Ada baiknya dalam menyelesaikan pertengkaran, kita mengalah dengan meminta maaf, biarlah Allah yang menilai dan menjadi saksinya. Yang terpenting kita melakukan hal yang benar dan tidak menyimpang dari akidah, norma yang ditetapkan Allah maupun manusia. Sering sekali konsep itu aku lakukan, ngak tahu apakah ini ada hubungannya dengan jiwaku sebagai keturunan orang Jawa, yang katanya diinjak kakinya pun dia akan berkata :”nyuwun sewu mas….suku sampeyan midak sikil kula?” Sering aku lakukan menyelesaikan pertengkaran dengan istriku yang memang aku tahu orangnya sangat keras kepala dan ngak mungkin mau mengalah. Dan ketika sudah saya sampaikan bermacam-macam alasan dan fakta tetap tidak diterima maka kata “maaf” adalah kata kunci Islah. Mengalah untuk menang, bohong untuk perdamaian saya rasa masih cukup relevan menengahi masalah. Ngapain sih….dikit-dikit jadi masalah, bisa jadi tambah stress dong? Bukankan di dunia ini kita mampir ngombe, mencari bekal akhirat sebanyak-banyaknya.
Berbeda dengan "Tiha" suatu ketika dia dituduh mengambil penghapus pensil temannya yang oleh temannya tersebut diketemukan di tas-nya Tiha. Temannya menangis dan mengadukan hal ini ke Gurunya, dan karena sudah ketemu, Tiha disuruh minta maaf dan bersalaman, selesai urusan pikir pak Guru itu, namun di luar dugaan seperti yang diceriterakan Tiha kepadaku, katanya :"Aku ngak mau minta maaf karena nanti aku dianggap bersalah? meskipun aku dibujuk agar temanku berhenti menangis". Dalam benakku namanya anak-anak ada saja kelucuannya. Tetapi benar sekali sikap Tiha, dan andaikata kata-katanya pernah aku dengar sebelum aku dituduh "selingkuh" oleh ibunya, pasti aku akan memilihnya apapun resikonya demi sebuah kebenaran.



