Wednesday, January 02, 2008

Bagi-Nya begitu mudah


Kadang-kadang Aku tertawa sendiri ditengah perenungan kematian. Catatan kematian dari nama-nama orang yang aku kenal disekelilingku terhapus satu demi satu. Ayahku "Sunardi bin Kartodimejo" dipanggil-Nya tanggal 16 juli 2007 pukul 11.50 wib di rumah sakit Dr. Moewardi Jebres Solo. Seminggu sebelumnya begitu nyata, dan masih teringat pesannya mengucapkan selamat jalan ketika kupamiti kepergianku ke Tenggarong. Aku bayangkan melihat kesehatan ayahku yang sedemikian kuat, badannya besar tak pernah aku bayangkan akan secepat itu perginya. Aku bayangkan, beliau dapat bangga ketika suatu saat nanti dapat menghadiri wisuda cucunya.
Dipenghujung tahun 2007 ini dari pamanku, adik ipar ibu mertuaku "soekarno bin fulan" juga meninggalkan keluarga setelah sekian tahun menderita sakit. Desember 2007, anak dari budheku "Karman bin fulan" menyerah dengan penyakitnya lever. Desember tanggal 23 kerabat mbah sampit "Adhimoljo bin notosewojo" juga pergi begitu saja. Terakhir tetangga depan rumahku mbah Hendro tutup usia tanggal 1 Januari 2008 pukul 1 pagi. Padahal baru kemarin lho dia ngobrol melayani aku beli lampu dop.
Bagi-Nya begitu mudah dan sangat rahasia, mungkin sebentar lagi juga giliranku....

Monday, December 17, 2007

Ada BAIKnya Ngak Perlu MINTA MAAF

Suatu hari konsepku dibantah oleh anakku yang berusia 7 tahun, duduk di SDIT Insan Kamil kelas 2. Selama ini bagiku, kata “maaf” adalah suatu perkataan yang mudah diucapkan dan cukup untuk menyatakan penyesalan untuk tidak terulang lagi dan menyelesaikan masalah yang akan berlarut-larut. Ada baiknya dalam menyelesaikan pertengkaran, kita mengalah dengan meminta maaf, biarlah Allah yang menilai dan menjadi saksinya. Yang terpenting kita melakukan hal yang benar dan tidak menyimpang dari akidah, norma yang ditetapkan Allah maupun manusia. Sering sekali konsep itu aku lakukan, ngak tahu apakah ini ada hubungannya dengan jiwaku sebagai keturunan orang Jawa, yang katanya diinjak kakinya pun dia akan berkata :”nyuwun sewu mas….suku sampeyan midak sikil kula?” Sering aku lakukan menyelesaikan pertengkaran dengan istriku yang memang aku tahu orangnya sangat keras kepala dan ngak mungkin mau mengalah. Dan ketika sudah saya sampaikan bermacam-macam alasan dan fakta tetap tidak diterima maka kata “maaf” adalah kata kunci Islah. Mengalah untuk menang, bohong untuk perdamaian saya rasa masih cukup relevan menengahi masalah. Ngapain sih….dikit-dikit jadi masalah, bisa jadi tambah stress dong? Bukankan di dunia ini kita mampir ngombe, mencari bekal akhirat sebanyak-banyaknya.

Berbeda dengan "Tiha" suatu ketika dia dituduh mengambil penghapus pensil temannya yang oleh temannya tersebut diketemukan di tas-nya Tiha. Temannya menangis dan mengadukan hal ini ke Gurunya, dan karena sudah ketemu, Tiha disuruh minta maaf dan bersalaman, selesai urusan pikir pak Guru itu, namun di luar dugaan seperti yang diceriterakan Tiha kepadaku, katanya :"Aku ngak mau minta maaf karena nanti aku dianggap bersalah? meskipun aku dibujuk agar temanku berhenti menangis". Dalam benakku namanya anak-anak ada saja kelucuannya. Tetapi benar sekali sikap Tiha, dan andaikata kata-katanya pernah aku dengar sebelum aku dituduh "selingkuh" oleh ibunya, pasti aku akan memilihnya apapun resikonya demi sebuah kebenaran.

Thursday, December 06, 2007

Ketika Memanjat Tebing


Ada pengalaman menarik ketika pertama kalinya memberanikan diri menaiki papan tebing hingga sampai puncaknya. Tanpa persiapan, latihan dan jauh diluar agenda acara liburan bersama-sama anak dan istri di Agrowisata Sondokoro, Tasikmadu, aku panjat dinding tebing itu dengan keyakinan "Aku Pasti Bisa".


Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil hikmah dari sekedar bergelantungan tersebut, ternyata ada sisi dimana sebuah keputusan harus ditentukan dengan sangat cepat, maju terus untuk berhasil atau menyerah? tingkat kesulitan berbeda-beda dan perlu strategi yang beda.

Keyakinan yang utuh saja rupanya tidak cukup untuk maju terus...., maka seyogyanya perlu persiapan.


Buat rekan-saudaraku pembaca, cobain sendiri saja deh ya....baru tukar hikmah!!

Friday, January 20, 2006

Semua karena Ridhonya (1)

APAKAH KITA SUDAH MEYAKINI ?

Keyakinan terhadap suatu kebenaran tidak dapat dipengaruhi oleh nalar atau pemikiran begitu saja. Nalar atau pemikiran akal sehat yang didukung oleh bukti-bukti hanya dapat menyentuh sesuatu yang dinamakan kepercayaan. Sedangkan sumbernya, Nalar bersumber dari kumpulan informasi panca indra yang terkumpul pada otak, sedangkan kepercayaan bersumber dari kumpulan informasi eksternal atau bisa disebut juga indra keenam atau rasa yang didukung oleh informasi panca indra dan letak sumbernya di hati/ kalbu. Lalu dimanakah letak sumber keyakinan ?
Sumber keyakinan, menurut saya ; bagian yang terbesarnya adalah dari “Hidayah” Allah, sedangkan bagian lainnya bisa dari penalaran dan kepercayaan. Letak organ pada manusia yang dapat diraba adanya keyakinan adalah pada “Lubuk Hati” atau “Hati kecil “. Sehingga untuk sampai pada taraf keyakinan seseorang harus menemukan kebenaran dalam penalaran dan merasakan dalam kepercayaan. Bagaimana contohnya ?
Paman nabi Muhammad SAW , termasuk golongan “Kafir” sampai akhir hayatnya. Padahal dia adalah paman dekatnya yang dapat melihat sendiri kehidupan, perilaku nabi lebih jauh sebelum menerima wahyu kerasulan sampai dewasa menjadi panutan sebagian umat pada waktu itu. Nalarnya pasti membenarkan bahwa Muhammad adalah berakhlak mulia dan lain-lain bukti sampai bukti tanda kerasulan. Nalarnya juga membenarkan bahwa Arca-arca yang disembah sebagian besar umat pada masa itu, bukanlah Tuhan yang sesungguhnya, karena tidak mungkin Tuhan ada karena dibuat hasil pahatan tangannya sendiri. Meskipun saya kurang mempelajari riwayat tersebut, tapi saya bisa memastikan bahwa Paman nabi, Abu tholib memiliki kepercayaan bahwa Muhammad menjadi utusan Tuhan. Hal ini terbukti bahwa selama dalam masyarakat kaumnya Nabi tidak dimusuhi oleh pamannya, meskipun keyakinan “KeTuhanan” yang dibawa nabi Muhammad jelas-jelas mengancam keyakinannya dan kehidupannya yang bekerja sebagai pembuat Arca.
Oleh karena Allah tidak menurunkan hidayah, yang dapat membukakan kalbu sehingga menyentuh lubuk hatinya, maka meskipun nalar Abu Tholib membenarkan, kepercayaan hatinya telah merasakan tetapi Keyakinannya tidak tersentuh adanya Ketuhanan, sebagaimana ajakan Nabi Muhammad SAW.
Contoh sebaliknya, pada masa itu adalah adanya seorang budak beli-an yang bernama Billal. Karena hidayah Allah yang telah menanamkan biji keyakinan akan Allah dalam lubuk hatinya, maka dengan meninggalkan nalar (meskipun nalarnya telah bicara kalau mengikuti keyakinan yang dibawa Nabi Muhammad dia akan dianiaya atau mati, sedangkan dia pasti menginginkan hidup). Sampai ajalnya, biji keyakinan tetap dibawa.
Bersyukurlah kita yang telah diberi keyakinan meskipun masih sangat kecil dan masih terpengaruh oleh perdebatan nalar, perubahan kepercayaan (contoh berdebatan hukum haram-halal, boleh-tidak, ini-itu). Asalkan keyakinan itu benar-benar telah tertanam perdebatan nalar dan perubahan kepercayaan justru akan menumbuhkembangkan keyakinan menjadi besar (dengan catatan fungsi otak dan perasaan masih normal / sehat).
Kembali ke pertanyaan judul diatas, apakah kita sudah meyakini Islam sebagai Agama kita ?
Jika kita merasa berakal sehat, atau kita tidak mempunyai kelainan jaringan fungsi otak dan masih bisa menangkap dengan hati dan perasaan, marilah saya ajak mempelajari bukti-bukti / ayat-ayat yang dirasakan dan dapat diperdebatkan oleh akal ?
Kenapa harus sehat akal dan berperasaan ? Karena telah menjadi sunatullah bahwa manusia dilengkapi akal pikiran dan pengetahuan untuk memimpin dimuka bumi, baik memimpin kehidupannya sendiri atau mempengaruhi makhluk yang lain. Karena akan menjadi berbahaya penyimpangannya dalam menemukan bukti-bukti yang benar dan akan menjadi berbeda rasa kepercayaan hati, jika kedua syarat diatas terganggu kesehatnnya.