Semua karena Ridhonya (1)
APAKAH KITA SUDAH MEYAKINI ?
Keyakinan terhadap suatu kebenaran tidak dapat dipengaruhi oleh nalar atau pemikiran begitu saja. Nalar atau pemikiran akal sehat yang didukung oleh bukti-bukti hanya dapat menyentuh sesuatu yang dinamakan kepercayaan. Sedangkan sumbernya, Nalar bersumber dari kumpulan informasi panca indra yang terkumpul pada otak, sedangkan kepercayaan bersumber dari kumpulan informasi eksternal atau bisa disebut juga indra keenam atau rasa yang didukung oleh informasi panca indra dan letak sumbernya di hati/ kalbu. Lalu dimanakah letak sumber keyakinan ?

Sumber keyakinan, menurut saya ; bagian yang terbesarnya adalah dari “Hidayah” Allah, sedangkan bagian lainnya bisa dari penalaran dan kepercayaan. Letak organ pada manusia yang dapat diraba adanya keyakinan adalah pada “Lubuk Hati” atau “Hati kecil “. Sehingga untuk sampai pada taraf keyakinan seseorang harus menemukan kebenaran dalam penalaran dan merasakan dalam kepercayaan. Bagaimana contohnya ?
Paman nabi Muhammad SAW , termasuk golongan “Kafir” sampai akhir hayatnya. Padahal dia adalah paman dekatnya yang dapat melihat sendiri kehidupan, perilaku nabi lebih jauh sebelum menerima wahyu kerasulan sampai dewasa menjadi panutan sebagian umat pada waktu itu. Nalarnya pasti membenarkan bahwa Muhammad adalah berakhlak mulia dan lain-lain bukti sampai bukti tanda kerasulan. Nalarnya juga membenarkan bahwa Arca-arca yang disembah sebagian besar umat pada masa itu, bukanlah Tuhan yang sesungguhnya, karena tidak mungkin Tuhan ada karena dibuat hasil pahatan tangannya sendiri. Meskipun saya kurang mempelajari riwayat tersebut, tapi saya bisa memastikan bahwa Paman nabi, Abu tholib memiliki kepercayaan bahwa Muhammad menjadi utusan Tuhan. Hal ini terbukti bahwa selama dalam masyarakat kaumnya Nabi tidak dimusuhi oleh pamannya, meskipun keyakinan “KeTuhanan” yang dibawa nabi Muhammad jelas-jelas mengancam keyakinannya dan kehidupannya yang bekerja sebagai pembuat Arca.
Oleh karena Allah tidak menurunkan hidayah, yang dapat membukakan kalbu sehingga menyentuh lubuk hatinya, maka meskipun nalar Abu Tholib membenarkan, kepercayaan hatinya telah merasakan tetapi Keyakinannya tidak tersentuh adanya Ketuhanan, sebagaimana ajakan Nabi Muhammad SAW.
Contoh sebaliknya, pada masa itu adalah adanya seorang budak beli-an yang bernama Billal. Karena hidayah Allah yang telah menanamkan biji keyakinan akan Allah dalam lubuk hatinya, maka dengan meninggalkan nalar (meskipun nalarnya telah bicara kalau mengikuti keyakinan yang dibawa Nabi Muhammad dia akan dianiaya atau mati, sedangkan dia pasti menginginkan hidup). Sampai ajalnya, biji keyakinan tetap dibawa.
Bersyukurlah kita yang telah diberi keyakinan meskipun masih sangat kecil dan masih terpengaruh oleh perdebatan nalar, perubahan kepercayaan (contoh berdebatan hukum haram-halal, boleh-tidak, ini-itu). Asalkan keyakinan itu benar-benar telah tertanam perdebatan nalar dan perubahan kepercayaan justru akan menumbuhkembangkan keyakinan menjadi besar (dengan catatan fungsi otak dan perasaan masih normal / sehat).
Kembali ke pertanyaan judul diatas, apakah kita sudah meyakini Islam sebagai Agama kita ?
Jika kita merasa berakal sehat, atau kita tidak mempunyai kelainan jaringan fungsi otak dan masih bisa menangkap dengan hati dan perasaan, marilah saya ajak mempelajari bukti-bukti / ayat-ayat yang dirasakan dan dapat diperdebatkan oleh akal ?
Kenapa harus sehat akal dan berperasaan ? Karena telah menjadi sunatullah bahwa manusia dilengkapi akal pikiran dan pengetahuan untuk memimpin dimuka bumi, baik memimpin kehidupannya sendiri atau mempengaruhi makhluk yang lain. Karena akan menjadi berbahaya penyimpangannya dalam menemukan bukti-bukti yang benar dan akan menjadi berbeda rasa kepercayaan hati, jika kedua syarat diatas terganggu kesehatnnya.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home